Cari Blog Ini

Kamis, 13 Juni 2013

Berbagai Macam Cerita Rakyat

Cerita Rakyat Cerita rakyat merupakan bagian dari kesustraan Indonesia. Dahulu cerita rakyat ditularkan secara lisan. Namun, sekarang cerita rakyat ditulis dan diterbitkan menjadi buku. Cerita rakyat dapat dibedakan menjadi : Dongeng Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi, termasuk di dalamnya cerita-cerita pelipur lara dan cerita-cerita dengan tokoh binatang (fabel). Mite Mite adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan dianggap suci atau sakral, misalnya cerita tentang tokoh kayangan atau tokoh supranatural yang memiliki kekuatan hebat. Tokoh mite adalah dewa atau manusia setengah dewa dan menyangkut peristiwa yang terjadi di dunia lain pada masa lalu Legenda Legenda adalah dongeng asal mula terjadinya suatu tempat, peristiwa, atau keberadaan suatu daerah Saga/ sage Saga / sage adalah cerita mirip sebuah legenda. Saga berhubungan dengan cerita dewa-dewi. Epos Epos adalah cerita yang berkaitan dengan kepahlawanan. Epos merupakan Wiracarita. Dan berikut merupakan hasil analisis cerita rakyat yang berisikan ringkasan cerita rakyat beserta analisis unsur instrinsik dan hal-hal menarik pada cerita.

Karya Sastra Melayu Klasik

Sastra melayu klasik sudah ada sejak abad ke 16 M, gaya bahasanya hingga kini tidak mengalami banyak perubahan. Bentuk-bentuk sastra melayu adalah: 1. Pantun Ialah sejenis puisi yang terdiri dari 4 baris bersajak a-b-a-b, a-b- b-a, a-a-b-b. Sajak ke 1 dan 2 adalah lampiran (berisikan hal- hal mengenai alam), baris ke 3 dan 4 berisi tujuan dari pantun itu. Satu baris terdiri dari 8-12 kata. Contoh: Ayam hutan terbang ke hutan Tali tersangkut pagar berduri Adik bukan saudara bukan Hati tersangkut karena budi 2. Karmina Merupakan bentuk pantun yang singkat, baris ke 1 adalah lampiran, sedang baris ke 2 adalah isi tujuannya. Memiliki pola sajak lurus a-a, tujuan dari pemakaian karmina adalah untuk mengungkapkan secara langsung atau sekadar untuk menyindir. Contoh: Buah nangka bentuknya bulat Sudah tua bangka belum ingat akhirat 3. Gurindam Salah satu bentuk puisi melayu lama, terdiri dari 2 baris kalimat dengan akhiran irama yang sama. Baris ke 1 berisikan masalahnya dan baris ke 2 mengenai solusinya/akibatnya. Contoh: Kalau bekerja terburu-buru Tentulah banyak keliru 4. Hikayat Merupakan bentuk prosa mengenai sejarah, dongeng, dsb. Biasanya mengkisahkan kehebatan seseorang akan kesaktiannya, contoh Hikayat Hang Tuah. 5. Syair Adalah bentuk puisi/karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak, umumnya terdiri dari 4 baris berirama a-a-a-a yang keseluruhannya memiliki maksud penyair. Contoh: Tersusun indah pustaka ini Tertata rapi buku-buku penuh maknawi Isi hari dengan berkunjung kesini Pustaka terbaik di negeri ini 6. Seloka Juga merupakan bentuk puisi melayu lama yang berisikan pepatah/perumpamaan yang umumnya mengenai senda gurau dan sindiran. Kebanyakan seloka ditulis dalam 4 baris memakai bentuk pantun/syair. Contoh: Apa yang aneh bila dipandang Lengan pendek tapi bertudung Nampak seperti orang yang kudung Mata terpandang kaki tersandung 7. Talibun Sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, hanya saja berisi lebih dari 4 baris. Iramanya adalah abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dan seterusnya. Contoh: Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanakpun cari Induk semang cari dahulu

Ciri Sastra Melayu Klasik

nggak usah banyak basa-basi, langsung saja kita simak :

Ciri-ciri karya sastra melayu klasik 1. Struktur bahasanya adalah melayu, sulit dipahami orang di zaman sekarang. 2. Merupakan sastra lisan atau diceritakan secara turun temurun. 3. Tidak diketahui siapa penciptanya alias anonim, sama halnya dengan pencipta lagu daerah. 4. Umumnya bersifat istana sentris aliskan menceritakan kehidupaan kerajaan. 5. Pengarangnya sangat taat terhadap aturan sastra yang ada. 6. Ceritanya nampak seperti gambaran masyarakat yang statis (taat dengan aturan yang ada). 7. Memakai bahasa yang klise (contoh pada suatu hari, alkisah, dll). Nilai-nilai dalam karya sastra melayu klasik 1. Nilai agama, berkaitan dengan kaidah agama yang terkandung dalam sastra melayu klasik. 2. Nilai moral, berkaitan dengan etika dan sopan santun. 3. Nilai sosial budaya, berkaitan dengan keadaan masyarakat pada waktu itu. Bagaimana? Sudah mulai lebih memahami mengenai karya sastra melayu klasik? Apabila sudah maka ucapkan syukur. Semoga artikel ini bisa membantu kalian semua yang membutuhkan, terima kasih.

Sabtu, 01 Juni 2013

Majas

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh
efek-efek tertentu,
keseluruhan ciri bahasa
sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam
menyampaikan pikiran dan
perasaan, baik secara lisan maupun tertulis [1]. Jenis-jenis Majas Majas perbandingan Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Majas perbandingan 1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui
kiasan atau
penggambaran. Contoh: Perjalanan hidup
manusia seperti sungai yang
mengalir menyusuri tebing-
tebing, yang kadang-kadang
sulit ditebak kedalamannya,
yang rela menerima segala sampah, dan yang pada
akhirnya berhenti ketika
bertemu dengan laut. 1. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak
diselesaikan karena
sudah dikenal. Contoh: Sudah dua hari ia tidak
terlihat batang hidungnya. 1. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan
eksplisit yang
dinyatakan dengan kata
depan dan penghubung,
seperti layaknya,
bagaikan, " umpama", "ibarat","bak", bagai". contoh: Kau umpama air aku
bagai minyaknya, bagaikan
Qais dan Laila yang dimabuk
cinta berkorban apa saja. 1. Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan
suatu benda dengan
benda lain karena
mempunyai sifat yang
sama atau hampir sama. contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri. 1. Antropomorfisme: Metafora yang
menggunakan kata atau
bentuk lain yang
berhubungan dengan
manusia untuk hal yang
bukan manusia. 2. Sinestesia: Majas yang berupa suatu ungkapan
rasa dari suatu indra
yang dicurahkan lewat
ungkapan rasa indra
lainnya. 3. Antonomasia: Penggunaan sifat
sebagai nama diri atau
nama diri lain sebagai
nama jenis. 4. Aptronim: Pemberian nama yang cocok
dengan sifat atau
pekerjaan orang. 5. Metonimia: Pengungkapan berupa
penggunaan nama untuk
benda lain yang menjadi
merek, ciri khas, atau
atribut. Contoh: Karena sering
menghisap jarum, dia
terserang penyakit paru-paru. (Rokok merek Djarum) 1. Hipokorisme: Penggunaan nama
timangan atau kata yang
dipakai untuk
menunjukkan hubungan
karib. 2. Litotes: Ungkapan berupa penurunan
kualitas suatu fakta
dengan tujuan
merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang
tidak berharga ini sebagai
tanda terima kasihku. 1. Hiperbola: Pengungkapan yang
melebih-lebihkan
kenyataan sehingga
kenyataan tersebut
menjadi tidak masuk
akal. Contoh: Gedung-gedung
perkantoran di kota-kota
besar telah mencapai langit. 1. Personifikasi: Pengungkapan dengan
menggunakan perilaku
manusia yang diberikan
kepada sesuatu yang
bukan manusia. Contoh: Hembusan angin di tepi pantai membelai rambutku. 1. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan
tidak menjadikan benda-
benda mati atau tidak
bernyawa. 2. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian
dari objek untuk
menunjukkan
keseluruhan objek. contoh:Sejak kemarin dia tidak
kelihatan batang hidungnya. 1. Totum pro parte: Pengungkapan
keseluruhan objek
padahal yang dimaksud
hanya sebagian. contoh:Indonesia bertanding
volly melawan Thailand. 1. Eufimisme: Pengungkapan kata-
kata yang dipandang
tabu atau dirasa kasar
dengan kata-kata lain
yang lebih pantas atau
dianggap halus. contoh:Dimana saya bisa
menemukan kamar kecilnya? 1. Disfemisme:
Pengungkapan
pernyataan tabu atau
yang dirasa kurang
pantas sebagaimana
adanya. 2. Fabel: Menyatakan perilaku binatang
sebagai manusia yang
dapat berpikir dan
bertutur kata. contoh:Perilakunya seperti ular
yang menggeliat. 1. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai
tetapi dikiaskan atau
disamarkan dalam
cerita. 2. Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai
pengganti ungkapan
yang lebih pendek. 3. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai
tempat atau pranata. contoh:Kita bermain ke rumah
Ina. 1. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan
menggunakan simbol
atau lambang untuk
menyatakan maksud. 2. Asosiasi: perbandingan
terhadap dua hal yang
berbeda, namun
dinyatakan sama. Contoh: Masalahnya rumit,
susah mencari jalan keluarnya
seperti benang kusut. Majas sindiran Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Majas sindiran 1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta
yang sebenarnya dan
mengatakan kebalikan
dari fakta tersebut. Contoh: Suaramu merdu
seperti kaset kusut. 1. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar. 2. Sinisme: Ungkapan yang
bersifat mencemooh
pikiran atau ide bahwa
kebaikan terdapat pada
manusia (lebih kasar
dari ironi). Contoh: Kamu kan sudah
pintar ? Mengapa harus
bertanya kepadaku ? 1. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme,
ironi, atau parodi, untuk
mengecam atau
menertawakan gagasan,
kebiasaan, dll. 2. Innuendo: Sindiran yang
bersifat mengecilkan
fakta sesungguhnya. Majas penegasan Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Majas penegasan 1. Apofasis: Penegasan
dengan cara seolah-
olah menyangkal yang
ditegaskan. 2. Pleonasme: Menambahkan
keterangan pada
pernyataan yang sudah
jelas atau
menambahkan
keterangan yang sebenarnya tidak
diperlukan. Contoh: Saya naik tangga ke
atas. 1. Repetisi: Perulangan
kata, frasa, dan klausa
yang sama dalam suatu
kalimat. 2. Pararima: Pengulangan
konsonan awal dan akhir
dalam kata atau bagian
kata yang berlainan. 3. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal
kata secara berurutan. 4. Paralelisme: Pengungkapan dengan
menggunakan kata,
frasa, atau klausa yang
sejajar. 5. Tautologi: Pengulangan kata dengan
menggunakan
sinonimnya. 6. Sigmatisme:
Pengulangan bunyi "s"
untuk efek tertentu. 7. Antanaklasis: Menggunakan
perulangan kata yang
sama, tetapi dengan
makna yang berlainan. 8. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara
berturut-turut dari yang
sederhana/kurang
penting meningkat
kepada hal yang
kompleks/lebih penting. 9. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara
berturut-turut dari yang
kompleks/lebih penting
menurun kepada hal
yang sederhana/kurang
penting. 10. Inversi: Menyebutkan
terlebih dahulu predikat
dalam suatu kalimat
sebelum subjeknya. 11. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang
jawabannya telah
terkandung di dalam
pertanyaan tersebut. 12. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa
unsur kalimat, yang
dalam susunan normal
unsur tersebut
seharusnya ada. 13. Koreksio: Ungkapan
dengan menyebutkan
hal-hal yang dianggap
keliru atau kurang tepat,
kemudian disebutkan
maksud yang sesungguhnya. 14. Polisindenton:
Pengungkapan suatu
kalimat atau wacana,
dihubungkan dengan
kata penghubung. 15. Asindeton: Pengungkapan suatu
kalimat atau wacana
tanpa kata penghubung. 16. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan
keterangan tambahan di
antara unsur-unsur
kalimat. 17. Eksklamasio: Ungkapan
dengan menggunakan
kata-kata seru. 18. Enumerasio: Ungkapan
penegasan berupa
penguraian bagian demi
bagian suatu
keseluruhan. 19. Preterito: Ungkapan
penegasan dengan cara
menyembunyikan
maksud yang
sebenarnya. 20. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk
menegaskan. 21. Kolokasi: Asosiasi tetap
antara suatu kata
dengan kata lain yang
berdampingan dalam
kalimat. 22. Silepsis: Penggunaan
satu kata yang
mempunyai lebih dari
satu makna dan yang
berfungsi dalam lebih
dari satu konstruksi sintaksis. 23. Zeugma: Silepsi dengan
menggunakan kata yang
tidak logis dan tidak
gramatis untuk
konstruksi sintaksis
yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang
rancu. Majas pertentangan Artikel utama untuk bagian ini
adalah: Majas pertentangan 1. Paradoks: Pengungkapan dengan
menyatakan dua hal
yang seolah-olah
bertentangan, namun
sebenarnya keduanya
benar. 2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frasa. 3. Antitesis: Pengungkapan dengan
menggunakan kata-kata
yang berlawanan arti
satu dengan yang
lainnya. 4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang
bersifat menyangkal
yang telah disebutkan
pada bagian
sebelumnya. 5. Anakronisme: Ungkapan
yang mengandung
ketidaksesuaian dengan
antara peristiwa dengan
waktunya.

Menganalisis unsur - unsur yang terdapat dalam novel

Novel adalah salah satu karya sastra yang berbentuk prosa. Novel merupakan karya bentuk imajinatif yang mengisahkan sisi utuh atas permasalahan mengenai kehidupan seorang tokoh atau beberapa tokoh. Pada pembelajaran ini akan mengajak kamu untuk menemukan unsur intrinsik dan ekstrinsik pada sebuah novel. Unsur Intrinsik, yaitu unsur pembangun cerita yang berasal dari dalam cerita itu sendiri. Unsur ini meliputi berikut ini.
a. Tema, merupakan gagasan pokok cerita yang diangkat pengarang dalam novelnya. Tema dapat menyangkut segala persoalan di kehidupan. Antara lain masalah kemanusiaan, kekuasaan, kasih sayang, keagamaan, dan sebagainya. b. Penokohan, merupakan pelaku dalam cerita. c. Amanat, merupakan pesan yang disampaikan pengarang kepada pembaca melalui cerita dalam novel. Untuk menemukan sebuah amanat cerita, tidak cukup dengan membaca dua atau tiga paragraf saja, melainkan kamu harus membaca keseluruhan ceritanya. d. Setting, merupakan tempat, suasana, dan waktu terjadinya cerita dalam novel. e. Sudut pandang pengarang, yaitu kedudukan pengarang dalam memposisikan dirinya dalam suatu cerita. Aku-an, dia-an, atau sebagai orang yang serba tahu. f. Alur, merupakan pola pengembangan cerita berupa rangkaian peristiwa yang terjadi. Jenis-jenis alur, yaitu sebagai berikut. 1. Alur maju, yaitu alur atau jalan cerita yang disusun berdasarkan urutan waktu (naratif) dan urutan peristiwa (kronologis). 2. Alur mundur, yaitu alur atau jalan cerita yang mengembalikan cerita ke masa atau waktu sebelumnya. 3. Alur campuran (flashback), yaitu perpaduan antara alur maju dan alur mundur. Cerita bergerak dari bagian tengah, menuju ke awal, dilanjutkan ke akhir cerita. Bagian-bagian alur/peristiwa yaitu sebagai berikut. 1. Tahap pengenalan, tahap ini dimunculkan sebuah cerita dengan mengenalkan tokoh, situasi, latar, waktu, dan sebagainya. 2. Tahap peristiwa, tahap dimunculkannya suatu peristiwa sebagai penggerak cerita. 3. Tahap muncul konflik, tahap dimunculkannya permasalahan yang menimbulkan pertentangan dan ketegangan antartokoh. 4. Tahap konflik memuncak, tahap permasalahan/ ketegangan berada pada titik paling atas (puncak). 5. Tahap penyelesaian, tahap permasalahan mulai ada penyelesaian (jalan keluar) menuju ke akhir cerita. 6. Sudut pandang (point of view): cara pandang pengarang dalam menempatkan dirinya saat bercerita. Unsur ekstrinsik, yaitu unsur pembangun cerita yang berasal dari luar cerita. Namun, unsur ini cukup memengaruhi cerita yang dibuat. Unsur ini meliputi nilai moral, agama, sosial, budaya, pendidikan, ideologi yang melatarbelakangi kehidupan pengarang, dan bahasa. Novel dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu novel sastra (serius), novel populer, dan novel terjemahan. Novel Sastra Novel Populer Mengandu
ng
kebaruan
(inovasi),
kepaduan
(koherensi) , keaslian (orisnalitas
),
kematanga
n ( intelektual
itas), dan kedalaman
(
eksploratif
). Dibaca
untuk
menyempu
rnakan diri. Berfungsi
sosial. Menyimpan
nilai
keabdian. Isinya
mengungka
pkan
kenyataan. Diperhatik
an oleh para
kritikus
sastra. Contoh: Layar Terkembang,
Belenggu,
Sengsara
Membawa Nikmat, dan sebagainya. Kurang
menampilka
n unsur- unsur
seperti
pada novel sastra,
kurang
menampilka
n konflik batin, atau problem
sosio
kultural,
berakhir
happy-
anding. Dibaca
untuk
kepentinga
n hiburan semata. Berfungsi
personal. Menyimpan
nilai
kesementar
aan
(trowaway
novels). Isinya
hanya
merupakan
kenyataan
semu. Tidak diulas oleh para kritikus
sastra. Contoh: Lupus, Olga dan Sepatu Roda, dan sebagainya. Sekarang, coba kamu pahami latar belakang pengarang novel berikut, kemudian bacakan penggalan novelnya! Biografi N.H. Dini N.H. Dini lahir tanggal 29 Februari 1936 di Semarang. Setamat SMA bagian Sastra (1959), ia mengikuti kursus Pramugari Darat GIA Jakarta (1956), dan terakhir mengikuti kursus B-1 Jurusan Sejarah (1957). N.H. Dini mulai menulis sejak tahun 1951. Pada tahun 1953 cerpen-cerpennya mulai dimuat di majalah Kisah, Mimbar Indonesia, dan Siasat. Selain menulis cerpen, Dini juga menulis sajak dan sandiwara radio, serta novel. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain pemenang Lomba Penulisan naskah skenario untuk sandiwara radio se-Jawa Tengah (1955), mendapat hadiah pertama untuk lomba Penulisan Cerita Pendek dalam Bahasa Prancis se-Indonesia untuk cerpennya Sarang Ikan di Teluk Jakarta (1988). Pada tahun 1989
ia mendapat hadiah seni dari kementrian P & K untuk bidang sastra. Pada tahun 1991 Dini kembali memperoleh Piagam Penghargaan Upapradana dari Pemda TK I Jawa Tengah. Selain terus berkarya, Dini juga sibuk menerima undangan ceramah mengenai sastra dan budaya di dalam dan luar negeri. Selain itu, ia juga mengelola sebuah taman bacaan untuk remaja dan anak-anak di Semarang, yang kegiatannya mencakup latihan bahasa Indonesia dan diskusi. Sebagai sarana berlatih, coba kamu baca dengan saksama novel berikut ini! Keberangkatan Usaha nasionalisasi yang dilakukan pemerintah Indonesia pada tahun 1950-an, ternyata—sedikit banyak— telah ikut mendorong timbulnya
gelombang antibangsa asing. “Seolaholah telah direncanakan dari semula, tulisan-tulisan dengan huruf besar-besar dan nyata dalam warna menyala tergores pada tembok-tembok atau pintu rumah-rumah kediaman orang asing: Anjing Belanda, pulang ke negerimu! Ini bukan negeri orang bule!” (hlm. 27). Unjuk rasa yang menyatakan kebencian terhadap orang asing muncul di mana-mana. Gejolak sosial tersebut telah memaksa sejumlah keluarga asing, khususnya Belanda, atau keluarga Indo, hengkang, pergi meninggalkan Indonesia. Tidak terkecuali pula keluarga Frissart; salah satu keluarga Indo-Belanda. Mereka tak tahan tetap tinggal di Indonesia, lalu hijrah ke negeri Kincir Angin. Elisa Frissart, salah seorang anggota keluarga itu, ternyata sudah terlanjur betah tinggal di
Indonesia. la memutuskan untuk tidak ikut keluarganya pindah ke Belanda. Bahwa masyarakat menganggap keluarga Indo sebagai kaki tangan Belanda atau antek- antek imperialisme, tidaklah menyurutkan niatnya untuk tetap tinggal di Indonesia. Begitu pula bujukan ayahnya, tak membuatnya tergoda untuk ikut keluarganya. Elisa yang lahir dan dibesarkan di negeri ini, merasa sudah menjadi bagian dari bangsa dan tanah air yang telah memberinya penghidupan. Di balik perasaan keindonesiaannya itu, ada hal lain yang membuatnya berketetapan hati untuk tinggal
di Indonesia dan tidak ikut hijrah bersama keluarganya. Penyebabnya yang terutama adalah kekacauan dalam kehidupan keluarganya sendiri. la merasa hidup terbelenggu jika tinggal di lingkungan keluarganya. Ibunya terlalu banyak memaksakan kehendaknya sendiri. Kelakuan ibunya sering membuatnya tertekan. Dengan demikian, kepindahan orang tuanya ke Belanda justru ibarat awal kebebasannya. la merasa bakal
terbebas dari kukungan ibunya yang kejam. Perasaan itu sebenarnya sudah mulai ia rasakan setelah Elisa bekerja sebagai pramugari GIA. Dengan penghasilannya itu, ia sengaja tinggal di asrama, sematamata agar ia tidak terlalu dikekang. Namun, ternyata ibunya masih sering juga mengganggunya. Elisa kemudian pindah ke rumah dinas perusahaannya, bersama sahabatnya, Lansih. Setelah tinggal bersama rekan sejawatnya itu, perubahan mulai terjadi. Persahabatan dengan teman-teman prianya, tidak lagi terbatas dengan pemuda Indo, tetapi juga dengan pemuda lain dari berbagai suku bangsa. Di antara para pemuda yang datang bermaksud menjalin persahabatan dengan Elisa, hanya Sukoharjito, pemuda Jawa, yang berhasil merebut hati gadis Indo itu. Pemuda itu pula yang membawanya pada kenikmatan jatuh cinta. Tak berlebihan jika kemudian ia berharap agar pemuda itu segera meminangnya. Sementara berharap demikian, Elisa sendiri mulai dirundung kecemasan mengingat ia tak tahu persis asal-usul keluarganya. Persoalan itu bermula dari pertemuan Elisa dengan Rama Beick, seorang pastor kulit putih yang sudah menjadi warga negara Indonesia. Kemudian, Elisa mencoba melacak lebih jauh perihal latar belakang orang tuanya. Di luar dugaan, semakin banyak keterangan yang diperoleh, semakin membuatnya bingung. Persoalannya adalah bahwa ibunya sendiri mempunyai masa lalu yang kelabu; ia bukan wanita baik-baik. Elisa sendiri adalah buah dari hasil hubungan gelap ibunya dengan lelaki lain, yang tidak diketahui siapa orangnya. Keterangan tersebut justru datang dari kakak Elisa sendiri.
“...Siapa tahu barangkali kita berdua anak-anak adiknya atau
anak lelaki lain, anak-anak Thalib, pemuda pelukis yang dipungutnya dari jalanan. Dikatakannya dia bisa tidur dengan sepuluh lelaki berturut- turut. Oleh karenanya, dia tidak akan bisa mengetahui aku anak siapa dan kau anak siapa” (hlm. 91). Bagi Elisa yang merasa perlu memperoleh kepastian siapa ayahnya yang sebenarnya, keterangan tersebut membuatnya makin penasaran. la kemudian menemui Thalib, lelaki yang konon paling menyayanginya di antara lelaki yang pernah berhubungan dengan ibunya. Wanita Indo itu akhirnya berhasil juga menjumpai Thalib di Surabaya, sungguhpun lelaki itu sedang dalam keadaan sakit keras. Namun, dari keterangannya, jelas sudah bahwa Elisa adalah anak pelukis itu, Thalib, hasil dari perbuatan serong ibunya dengan lelaki itu. Sungguhpun Elisa masih belum yakin benar, ia berusaha menyembuhkan lelaki yang mengaku ayah yang sebenarnya itu. Keadaan Thalib makin baik, bahkan sudah mencoba melukis lagi. Namun, masalah yang kini dihadapi Elisa adalah hubungannya dengan Sukoharjito. Belakangan, pemuda keturunan bangsawan Solo itu, diketahui akan menikah dengan wanita lain yang sudah dihamilinya. Betapa
kecewanya Elisa. Sukoharjito yang menjadi tumpuan harapannya di antara lelaki lain yang berusaha merebut hati Elisa, termasuk Gail, seorang wartawan Amerika yang sangat menggodanya— justru telah menghancurkan segalanya; memupus juga keinginannya untuk menjadi warga negara Indonesia. Peristiwa itu telah menjungkirbalikkan sikap hidupnya semula. Elisa kemudian memutuskan untuk hijrah ke Belanda, menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu berada di sana. Keputusan itu menjadi lebih kuat lagi setelah ia selamat dari kematian ketika pesawat yang membawanya ke Palembang, jatuh. Di samping itu, Elisa sendiri sudah merasa mulai bosan dengan pekerjaannya sebagai pramugari. Atas segala peristiwa itu, pada hari yang ditentukan, ia berangkat menyusul keluarganya ke Belanda. “Dengan hati rawan tetapi terang, tanah dan kotaku kutinggalkan” (hlm. 190).
Itulah langkah yang diambil gadis Indo yang karena kegagalan cintanya, terpaksa meninggalkan negeri ini; tanah yang telah melahirkan dan membesarkannya. Latihan: 1. Dari penggalan novel di atas, coba kamu analisis unsur intrinsik dan ekstrinsiknya! 2. Coba kamu temukan unsur- unsur ekstrinsiknya dan berilah penjelasan secukupnya! 1. Unsur Intrinsik 2. Unsur Ekstrinsik 3. Jenis-Jenis Novel N.H. Dini Share

Kata - Kata Bijak

"Seorang pemenang tidak
pernah menyerah, dan
orang yang menyerah tidak
pernah menang." "Syukurilah apa yang anda
dapatkan baik suka ataupun
tidak maka anda sudah
menghargai hidup anda
sendiri" "Pekerjaan yang berat
apabila kita menikmati
pekerjaan tersebut maka
pekerjaan akan menjadi
mudah dikerjakan dan
memuaskan" "Dalam hidup, ada hal yang
datang dengan sendirinya,
dan ada hal yang harus
diperjuangkan dahulu untuk
mendapatkannya." "Tidak ada satupun di dunia
ini, yang bisa di dapat
dengan mudah. Kerja keras
dan doa adalah cara untuk
mempermudahnya." "Keberhasilan kita di masa
depan lebih penting,
daripada kepedihan kita di
masa lalu." "Jangan membiarkan
masalah bertumpuk sampai
akhirnya kamu enggak bisa
menyelesaikannya" "Jangan terlalu berharap
apa yang dapat dunia
berikan untukmu,Tetapi
berikanlah yang terbaik
untuk dunia. Niscaya dunia
akan menjadi tempat yang lebih indah" "Memberi adalah wujud
perasaan berterima kasih
terhadap berkat-berkat
yang telah kita terima" "KASIH ITU MENUTUPI
BANYAK
KESALAHAN....KASIHILAH
MUSUHMU...Bagaimana
engkau dapat mengasihi
Tuhan yang tidak kelihatan bila manusia yang terlihat
saja tidak dapat kau kasihi" "Orang yang berpikiran
positif, dalam kondisi
apapun juga selalu memacu
dirinya sendiri ke arah yang
lebih baik, tanpa
terpengaruh oleh kondisi luar, selalu berusaha melihat
dari segi positif, dan
menjadikan halangan
sebagai tantangan untuk
maju" "Bila cintamu tak kunjung
tiba sedangkan umur terus
menua dan diri beranggapan
bahwa pernikahan harus
dijalankan demi mendapat
pengakuan, jangan ada keraguan untuk melanjutkan
asal tanamkan saling
pengertian, karena
pernikahan seperti ini akan
terhindar dari badai
kecemburuan" "Orang malas tidak akan
menangkap
buruannya,tetapi orang rajin
akan memperoleh harta yg
berharga" "Ketika kamu gembira,
kegembiraanmu tidak
melampaui hakmu.Ketika
kamu berkuasa, kamu tidak
mengambil sesuatu yang
bukan hakmu.” itulah adab orang beriman" "Orang sukses memiliki
kebiasaan melakukan hal
yang tidak suka dilakukan
oleh orang malas.Orang
sukses itu sendiri
sebenarnya juga tidak suka melakukannya,tapi
ketidaksukaan mereka di
taklukkan oleh kekuatan
tujuan mereka." "You Never Change If You
Never Try..do it your own
way by your self.Dont give
up and be a weak until we
die.Try to the best things
what you got. BECAUSE YOU ARE NOT A
LOOSER !!" "Apapun yang bisa di
bayangkan pikiran manusia,
serta di yakini dan
diusahakannya.. PASTI
AKAN TERCAPAI!!!" "Tanda akal seseorang itu
adalah pekerjaannya, dan
tanda ilmu seseorang itu
adalah perkataannya." "Gagal dalam kemuliaan
adalah lebih baik, daripada
menang dalam kehinaan dan
kecurangan." "Bicaralah ketika engkau
merasa tak kunjung
damai,biarkan teman''di
sampingmu setia untuk
mendengar semua
keluhanmu itu,karena dunia ini tak mungkin selalu ada
keluarga yang mampu
mendengar semua rasa yang
kau pendamkan dalam benak
mu.di samping mu masih ada
yang punyai derita batin sama seperti mu" "Tidak ada satupun sifat
yang diberikan Tuhan
kepada kita, yang tidak
pernah berguna." "Gagal dalam sebuah
pertempuran akan lebih
ksatria,daripada gagal
sebelum sempat menarik
pedang" "Rasa hormat tidak selalu
membawa persahabatan,
tapi persahabatan tidak
mungkin ada tanpa rasa
hormat." "Gagalnya cinta bukanlah
gagalnya hidup. Bahkan
banyak orang yg berhasil
karena ditempa kekecewaan
yg sangat mendalam." "Jangan bersedih jika kamu
tidak di hargai, tapi
bersedihlah jika kamu tidak
berharga lagi." "Jangan pernah perlihatkan
kesedihan kita di depan
umum, karena itu tak akan
pernah berguna." "Seorang ibu tidak pernah
memintamu untuk
meletakkan dunia di
tangannya, namun tutur kata
yang halus, perangai yang
santun, prilaku yang bertanggung jawab dari
seorang anak adalah
kebahagiaan buat seorang
Ibu" "Berpikir baik-baik sebelum
melangkah atau
mengucapkan sesuatu,
karena bertindak atau
berbicara yang tidak tepat
waktu dan sasaran justru akan berakibat buruk.
Adakalanya kita harus
melangkah, adakalanya kita
harus diam" "Jangan pernah berhenti
bermimpi...karena tak ada
yang mustahil...selama mau
berjuang untuk meraihnya" "Cinta seorang ibu berada
tepat di bawah cinta Tuhan
kepada kita. “Ibu tidak
pernah lelah untuk
menyayangi dan mengasihi
kita. Cinta nya lebih mulia daripada cinta seseorang
dimanapun di dunia ini. I’m
sorry Mom! I never meant to
hurt you! I never meant to
make you cry." "Tidak menyesali ataupun
dendam/marah pada hal-hal
yang sudah berlalu, dan
tidak menaruh rasa cemas
yang berlebihan akan masa
mendatang, itulah ketenangan sejati" "Salah satu hal yang tidak
dapat di daur ulang adalah
waktu yang telah terbuang.
Jadi pastikanlah kamu
menggunakan setiap
waktumu dengan baik." "Jangan engkau katakan
setiap apa yang engkau
ketahui, tapi ketahuilah
setiap apa yang engkau
katakan." "Membuang waktu mu untuk
melakukan hal yang tidak
berguna dapat
menghancurkan masa
depanmu"

Mari Belajar!

Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman
atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat
adanya interaksi antara stimulus dan respon.[1] Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat
menunjukkan perubahan
perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting
adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang
diberikan guru kepada pelajar,
sedangkan respon berupa
reaksi atau tanggapan pelajar
terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara
stimulus dan respon tidak
penting untuk diperhatikan
karena tidak dapat diamati dan
tidak dapat diukur, yang dapat
diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa
yang diberikan oleh guru
(stimulus) dan apa yang
diterima oleh pelajar (respon)
harus dapat diamati dan diukur. Penjelasan Definisi Perubahan akibat belajar
dapat terjadi dalam berbagai
bentuk perilaku, dari ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotor. Tidak terbatas
hanya penambahan pengetahuan saja. Sifat perubahannya relatif
permanen, tidak akan
kembali kepada keadaan
semula. Tidak bisa
diterapkan pada perubahan
akibat situasi sesaat, seperti perubahan akibat kelelahan,
sakit, mabuk, dan
sebagainya. Proses perubahan tingkah
laku dinyatakan dalam
bentuk penguasaan,
penggunaan, dan penilaian
terhadap sikap dan nilai-nilai
pengetahuan yang terdapat dalam berbagai bidang studi
atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan[2] . Perubahannya tidak harus
langsung mengikuti
pengalaman belajar.
Perubahan yang segera
terjadi umumnya tidak dalam
bentuk perilaku, tapi terutama hanya dalam
potensi seseorang untuk
berperilaku. Perubahan terjadi akibat
adanya suatu pengalaman, praktik[2] atau latihan. Berbeda dengan perubahan
serta-merta akibat refleks atau perilaku yang bersifat naluriah. Perubahan akan lebih mudah
terjadi bila disertai adanya
penguat, berupa ganjaran
yang diterima - hadiah atau
hukuman - sebagai
konsekuensi adanya perubahan perilaku tersebut. Proses perubahan dalam
belajar menuju ke arah
tujuan yang lebih baik dan
bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain[3]. perasaan bangga dalam diri
karna dapat mengerti dan
paham akan apa yang di
pelajari.